Berjarak sekitar 300 meter dari muara Cisela, saat matahari berada di titik kulminasi langit, Paranormal-Indonesia.com diajak menyusuri tebing pantai Jayanti yang berkarang tajam. Tujuan perjalanan kali ini tak lain untuk membuktikan kekeramatan Sodong Parat yang banyak diceritakan warga Cidaun. Nata sebagai penunjuk jalan merangkak di depan meniti satu demi satu batu karang di tebing itu. Di belakangnya, perlahan Paranormal-Indonesia.com bersama Ropandi mengikutinya. Dan jika kami salah dalam melangkah atau terpeleset, di bawah sana, deburan ombak telah siap menelan atau membenturkan tubuh kami ke batu karang.

Syukur, akhirnya kami tiba di Sodong Parat dengan selamat. Dan tempat keramat yang disebut masyarakat Cidaun dengan nama Sodong Parat, ternyata berbentuk sebuah goa atau lubang besar yang tembus dari satu tebing ke tebing yang lainnya. Bagian depan lubang itu berbentuk pipih, sementara di dalamnya bulat seperti berada dalam sebuah lorong panjang yang gelap dan lembab. Sedang di sisi kiri kanannya, tampak beberapa tumpuk abu pembakaran bekas orang melakukan semedi atau meditasi.

Dudung, 50, seorang nelayan yang sering menjaring ikan di pantai dekat Sodong Parat memaparkan. Menurutnya, terjadinya Sodong Parat ini adalah saat Kian Santang, putra Prabu Siliwangi yang telah masuk Islam di Tanah Suci Mekkah hendak meng-lslam-kan sang Prabu. Cerita pertemuan Kian Santang dengan Prabu Siliwangi ini memang amat mengakar di benak masyarakat Cidaun, Cianjur dan bahkan hingga ke seluruh tatar Pasundan. Begitu juga dengan legenda kesaktian keduanya.

Saat itu, Kian Santang, putra sakti Prabu Siliwangi bertemu dengan ayahnya di tepi pantai Jayanti. Layaknya Seorang anak yang menghadap ayahnya, Kian Santang tentu saja berlaku amat sopan. Apalagi, ayahnya adalah seorang raja yang menguasai dataran Sunda. Padahal, maksud pertemuan yang memang sengaja direncanakan oleh Kian Dudung di mulut Sodong Parat.

Tujuan Kiang Santang adalah untuk melaporkan bahwa dirinya telah kembali dari Tanah Mekkah dan telah pula memeluk agama Islam. Dengan kata lain, ia hendak berbagi pengalaman dengan sang ayah.

Dengan takzim, Kian Santang pun menceritakan pengalaman dan maksudnya kepada Prabu Siliwangi. Tapi maksud baik Kian Santang ini ditolak oleh Sang Prabu. Sebagai seorang raja besar yang disegani dan di hormati seluruh rakyatnya, mana mungkin ia diatur oleh anak atau siapa pun yang ada di bawahnya. Apalagi ia telah mendengar, beberapa orang yang masuk Islam dan dikhitan oleh Kian Santang bahkan meninggal dunia. Dengan begitu, lebih amat tak mungkin jika ia harus pindah keyakinan dan sekaligus dikhitan oleh anaknya sendiri.

Akhirnya, Prabu Siliwangi menghindar dari pertemuan itu dengan cara menembus tebing dan keluar di ujung tebing lainnya. Tebing yang diterobos Prabu Siliwangi itu membentuk lubang besar dengan ukuran 2 meter dan tebing inilah yang kemudian dinamai masyarakat dengan sebutan Sedong Parat. Dan kengerian langsung terasa begitu Paranormal-Indonesia.com memasuki lorong demi lorong Sodong Parat. Apalagi, aura mistik terasa amat kental sejak masih berada mulut gua ini.

Dan selanjutnya Dudung menambahkan pada malam-malam tertentu, lokasi ini dijadikan tempat semedi oleh bebera orang tak dikenal. Mereka menginap dalam gua hingga 7 hari 7 malam. Dudung tak mengetahui apa yang dikerjakan orang-orang itu di dalam sana. Namun kebiasaan banyak orang, mereka yang masuk ke dalam goa tak lain bertujuan meditasi atau meminta sesuatu pada penghuni gaib Sodong Parat. “ini tempat keramat pak, biasanya, orang datang mintanya macam-macam di sini, Mulai dari kekayaan, jodoh, pekerjaan”.

Keangkeran goa Sodong Parang sendiri sudah didengar sedari kecil.

Maklum, ayah 9 orang anak ini adalah warga asli Jayanti dan telah 20 tahun lebih mencari ikan di pantai Jayanti, dekat mulut goa Sodong Parat. Dikisahkan Dudung, hari itu, ia baru saja menebarkan jaringnya di lepas pantai Jayanti. Untuk menunggu hasilnya, Dudung dan beberapa orang rekannya menunggu sambil istirahat di tepi pantai tak jauh dari Sodong Parat.

Ketika sedang duduk sambil merokok dan memperhatikan jaringnya, mendadak, Dudung dikejutkan oleh teriakan perempuan minta tolong dari arah Sodong Parat. Bersama ketiga orang temannya, Dudung langsung berlari menuju ke arah suara itu. Dan setibanya di sana, Dudung melihat dua orang anak perempuan dan seorang anak lelaki tengah mengelilingi tubuh seseorang. Akhirnya Dudung pun tahu, anak lelaki yang dikerumuni itu ternyata kesurupan. Tubuhnya berguling-guling sambil menceracau tak keruan di mulut gua Sodong Parat.

Sebagai yang paling tua diantara kerumunan itu, Dudung meminta kepada yang lain untuk segera menjauh. Dan tanpa menunggu waktu, ia pun Segera membacakan beberapa ayat Al Qur’an. Usai itu, Dudung segera menyiram anak ang kesurupan itu dengan seember air yang diambil dari laut, kontan anak itu langsung tersadar. Kemudian berdiri sambil celingak-celinguk seperti orang bodoh. Ternyata anak itu dirasuki penghuni goa ini. Salahnya sendiri, ia pacaran di dalam goa dan berbuat tak senonoh di sana,” jelasnya.

Keangkeran goa Sodong Parat ini juga pernah disaksikan langsung oleh Dudung dan kawan-kawannya. Kala itu, waktu telah lewat ashar. Dan Dudung baru saja mengangkat jaringnya ke darat. Mulanya ia hendak langsung pulang, tetapi, karena hasil tangkapan hari itu kurang menguntungkan ia pun mencoba untuk memancing. Belum satu jam ia melemparkan kailnya ke laut, mendadak tampak sesosok wanita bergaun hijau ke luar dari Sodong Parat. Wanita misterius itu terus menuju ke pantai dan menghilang di balik batu karang yang selalu tersiram ombak. “Saya yakin, wanita itu pasti penjelmaan Ratu Laut Selatan. Untung saja ia tidak mengganggu kami yang tengah memancing,” ujarnya.

500 meter ke arah Timur Sodong Parat, Misteri diajak Nata untuk melihat telapak kaki Prabu Siliwangi yang terdapat di atas batu besar. Menurut cerita masyarakat sekitar, telapak kaki Prabu Siliwangi itu terjadi beberapa saat sebelum sang Prabu bersitegang dengan Kian Santang. Karena marahnya, Prabu Siliwangi yang tengah duduk menjejakkan kaki kanannya ke atas batu hingga membentuk telapak kaki. Setelah itu barulah terjadi perkelahian kecil antara Prabu Siliwangi dan Kian Santang, sebelum akhirnya, Sang Prabu menghindar dan tanpa sengaja membuat Sodong Parat.

Di atas jajaran batu karang itu, ternyata terdapat beberapa buah batu yang bentuknya persis seperti meja dengan 4 kursi. Batubatu yang membentuk kursi dan meja ini juga dikeramatkan masyarakat dan mereka menyebutnya batu kursi Prabu Silwangi. Saat Paranormal-Indonesia.com mencoba duduk di salah satu kursi batu besar yang menghadap ke laut, suasa nanya memang terasa amat beda. Nuansa mistik kontan saja menyelimuti perasaan. Kursi itu seperti memiliki kekuatan magis yang membuat orang akan terasa ngeri jika duduk di atasnya.

Kursi yang menghadap ke laut lepas itu, membuat siapa pun yang duduk di sana seolah hendak ditelan oleh gulungan ombak yang datang secara teratur, tak hanya itu, deburan ombaknya yang menghantam karang bak suara halilintar yang menggelegar. Seolah hendak melemparkan Paranormal-Indonesia.com ke batu karang yang berdiri angkuh di belakang sana. Yang jelas, walau hanya duduk barang sejenak, tetapi membuat bulu kuduk langsung bergidik. Ngeri!

Meski begitu, menurut Nata, batu itu sering dijadikan tempat meditasi bagi orang-orang pintar. Mereka duduk dengan penuh konsentrasi menghadap laut dari mulai matahari terbenam hingga terbit kembai.

Praktis semalam suntuk. Ditambahkannya, batu itu adalah tempat paling keramat diantara jajaran tempat keramat di pantai Jayanti ini.

Bahkan, sudah banyak orang pintar yang mendapatkan kekuatan gaib setelah meditasi di atas batu kursi Prabu Siliwangi ini. @KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia